7.8.26

Jaket, Garis Polisi, dan Resepsi

Layar laptop Ozan (25) menampilkan deretan spreadsheet yang seolah menertawakan sisa saldo rekeningnya. Di sampingnya, Lia (24), tunangannya, sedang sibuk melipat jaket hoodie sambil sesekali memijat pelipisnya. Pukul lima sore di sebuah agensi digital kecil di daerah Pahoman, waktunya Ozan melepas persona sebagai Junior Graphic Designerbergaji pas-pasan, beralih menjadi kurir merangkap admin untuk "Tiba-Tiba Vintage", usaha thrifting online yang mereka rintis berdua.

"Zan, tadi ibuku WA lagi," ucap Lia, memecah keheningan. Nada suaranya lelah. "Nanyain kepastian tanggal bayar DP gedung Bagas Raya. Katanya kalau lewat bulan ini, slot buat tahun depan bakal penuh."

Ozan menghela napas panjang. Tuntutan resepsi besar-besaran dari calon ibu mertuanya adalah beban batin yang mengalahkan deadline kantor. Hidup di Bandar Lampung dengan gaji UMK menuntut mereka untuk punya side-hustle. Mimpi mereka sederhana: melunasi DP gedung dan katering tanpa harus berutang ke pinjaman online. Semua harapan itu kini bertumpu pada karung-karung pakaian bekas yang mereka ambil dari Pasar Bambu Kuning.

Malam itu, Ozan menelepon Bang Jali, bos pakaian bekas langganannya di Pasar Bawah Ramayana. Tiga hari lagi, Ozan dan Lia akan membuka booth di Lampung Indie Market, sebuah event kreatif tahunan bergengsi di pelataran Mal Boemi Kedaton (MBK). Ini adalah pertaruhan terbesar mereka.

"Bang Jali, DP sepuluh juta udah masuk ya sore tadi," kata Ozan, sebelah tangannya mengusap punggung Lia yang sedang mereka-reka desain poster booth.

"Aman, Yay! Tiga karung windbreaker Jepang-Korea udah di gudang. Licin-licin barangnya, siap tempur ini mah! Lusa lu angkut aja ke sini," suara serak Bang Jali terdengar diiringi bising klakson angkot jurusan Rajabasa.

"Mantap, Bang. Jangan dikasih ke orang lain lho. Kalau cuan di MBK, aman urusan katering kawinan gue," ucap Ozan sambil tersenyum menatap Lia. Harapan itu terasa begitu dekat.

Namun, realitas birokrasi punya selera humor yang sangat buruk.

Dua hari sebelum acara, linimasa TikTok dan Instagram Rilis Lampung mendadak ramai. Tagar #ThriftingDilarang merajai tren lokal. Jantung Ozan berdegup kencang membaca sebuah berita utama: "Kementerian Perdagangan Turun Tangan, Bea Cukai Panjang dan Satpol PP Gerebek Gudang Baju Bekas Impor di Bandar Lampung." Alasan klasik: melindungi UMKM lokal. Regulasi pusat yang dieksekusi membabi buta tanpa aba-aba.

Panik, Ozan menyalakan motor Honda Beat bututnya, membonceng Lia menerobos kemacetan Jalan Teuku Umar menuju Pasar Bawah. Setibanya di sana, suasana sangat mencekam. Pedagang bergerombol dengan wajah muram.

Langkah Ozan dan Lia terhenti di depan lorong blok C. Napas mereka tercekat. Pintu harmonika gudang Bang Jali tertutup rapat, disilang dengan garis polisi kuning yang menyala.

"Mang, Bang Jali mana?" tanya Ozan gemetar kepada pedagang kopi keliling.

"Wah, telat kamu, Zan. Semalam digaruk semua sama petugas. Tiga truk barangnya diangkut. Bang Jali mah lagi diperiksa di Polresta," jawab si amang sambil geleng-geleng.

Dunia Ozan runtuh. Sepuluh juta rupiah—uang tabungan mati-matian hasil mereka berhemat setahun—lenyap. Terlebih, mereka tidak punya stok barang untuk Indie Market.

Hari pertama acara di MBK tiba. Di saat booth lain memamerkan rak-rak penuh pakaian estetis, lapak Ozan dan Lia tampak mengenaskan. Hanya ada sepuluh potong jaket sisa stok bulan lalu.

Puncaknya terjadi pada pukul dua siang. Dimas, panitia event, mendatangi booth dengan membawa clipboard.

"Zan, sori nih. Sisa pelunasan booth yang tiga juta belum masuk ya?" tegur Dimas tanpa basa-basi.

Tepat saat itu, ponsel Lia berbunyi. Panggilan dari ibunya. Wajah Lia makin pucat. Ozan, yang matanya memerah kurang tidur dan diimpit beban luar biasa, meledak.

"Mas, lu lihat booth gue? Barang gue disita negara semalam! Pemasok gue digerebek gara-gara aturan menteri yang turun tiba-tiba. Ini force majeure, Yay! Kasih gue keringanan, atau balikin aja DP sewa gue!" suara Ozan menggelegar, menarik perhatian pengunjung.

Dimas membalas dingin, "Nggak bisa gitu dong. Kontrak kan udah jelas. Aturan pemerintah ya bukan urusan panitia. Kalau hari ini nggak lunas, booth ini gue tutup."

"Bukan urusan kalian?!" Ozan membanting gantungan baju. "Terus urusan siapa?! Gue bayar sewa mahal, negara tiba-tiba matiin rezeki gue, dan lu cuma peduli sama kontrak?! Dimana nurani lu?!"

Lia buru-buru menarik lengan Ozan, menahan air matanya sendiri. "Zan, udah, malu dilihatin orang. Udah geh..."

Ozan terhempas ke kursi lipat. Perdebatan itu buntu. Dimas pergi dengan ancaman penyegelan. Ponsel Lia di atas meja masih menampilkan notifikasi missed call dari "Ibu".

Menatap wajah Lia yang menunduk lesu, amarah Ozan menguap, digantikan rasa gagal yang luar biasa. Berteriak pada panitia tidak akan mengembalikan uang katering, memaki pemerintah di Twitter tidak akan membuat calon mertuanya berhenti menuntut resepsi impian. Di mata birokrasi, nasib dua anak muda yang sedang berjuang menikah ini sama sekali tidak relevan.

Namun, patah arang bukanlah kemewahan yang bisa dimiliki kelas pekerja. Lia menatap Ozan, menghapus air matanya, lalu berkata, "Zan, kita nggak bisa pulang tangan kosong."

Melihat sebuah booth custom sablon di seberang yang sedang sepi, insting bertahan hidup Ozan menyala. Ia mengambil iPad-nya dan merangkul Lia. Mereka menghampiri booth tersebut dan menyewa mesin press sablon portable mereka per jam dengan sisa uang di dompet.

Mereka kembali ke booth dan mengubah konsep seratus delapan puluh derajat. Ozan menumpahkan seluruh keputusasaannya ke dalam desain-desain satir bernuansa streetwear. Dalam sekejap, desain itu dicetak di atas kemeja polos murah milik mereka sendiri.

Tulisannya besar, tebal, dan menohok: "BARANG ILEGAL (Kata Negara, Bukan Kata Gue)" Dan desain satu lagi buatan Lia: "Cari Cuan Buat Kawin Malah Dikriminalisasi"

Mereka membalik meja, membongkar rak, dan mengganti papan nama booth menggunakan spidol dan kardus bekas: "UPCYCLING SATIR. BAWA BAJU LAMA LU, KITA SABLON JADI BENTUK PROTES."

Seorang mahasiswa Universitas Lampung (Unila) yang sedang lewat berhenti membaca kardus itu. Ia tertawa keras. "Bang, asli ini relate banget! Sablonin jaket gue tulisan yang 'Cari Cuan Buat Kawin' itu dong! Kena berapa?"

"Lima puluh ribu aja, Yay," jawab Ozan, menyalakan mesin press, sementara Lia mulai merekam prosesnya untuk TikTok.

Sore itu, booth mereka diserbu. Konsepnya menohok jantung para Gen-Z dan Milenial Bandar Lampung yang lelah dengan inkonsistensi kebijakan, sekaligus relate dengan mahalnya biaya menikah. Video Lia viral di TikTok lokal.

Uang sepuluh juta mereka tidak kembali hari itu juga. Sisa sewa booth akhirnya lunas terbayar malam itu, menyisakan recehan yang masih sangat jauh dari angka DP gedung Bagas Raya. Ibunya Lia pasti masih akan menelepon esok hari.

Namun, saat mereka berboncengan pulang membelah angin malam Kota Bandar Lampung, Ozan menggenggam tangan Lia yang melingkar di pinggangnya lebih erat. Mereka belajar satu hal: hidup di negara ini ibarat menaiki rollercoastertanpa sabuk pengaman. Aturan bisa mencekik rezeki dalam semalam. Tapi selama mereka punya daya lenting untuk merespons kerasnya hidup dengan kreativitas, tidak ada garis polisi manapun yang bisa benar-benar membunuh masa depan mereka.


18.6.12

Pamrih

Sore yang cerah dan berangin di musim kemarau.  Seorang pria dengan sepeda motor tuanya melintas di tengah jalan yang sepi.  Di depannya dia melihat seorang wanita paruh baya di tepi jalan, berdiri di samping mobilnya, sebuah VW new Beetle 1.6 automatic.  Sepertinya wanita itu sedang kebingungan dan membutuhkan bantuan.

Kemudian pria itu menghampiri, dari dandanannya tampak jelas bahwa wanita ini bukanlah dari kalangan menengah.  Sebuah Christian Dior melingkar di pergelangan kirinya, sementara sebuah cincin dengan tiga butir permata menghiasi jari tangan kanannya yang erat menggenggam iPhone 4S, sepertinya kehabisan baterai.

"Selamat sore bu, ada yang bisa saya bantu?" Sapa pria itu

Alih-alih menjawab, si wanita ini malah memperhatikan pria di depannya.  Tampangnya lusuh, jaket kumal, sepintas aja bisa dilihat kalau ikat pinggang dan sepatu yang dikenakannya adalah produk KW 2, walaupun merek Crocodile terlihat jelas di situ.  Dari penampilannya dia bisa melihat kalau pria ini orang susah, bisa jadi pengangguran yang sedang cari kerja, atau setinggi-tingginya paling-paling juga karyawan outsourcing.

"Orang ini pasti ada maunya, jangan-jangan dia pura2 mau menolong pedahal mau merampok!" batinnya  menggerutu, galau, risau.

"Bu?" kembali si pria menyapa, ramah.

"Oh, emm.. anu, ban mobil saya kempes, saya nggak bisa gantinya, ini saya lagi tunggu sopir saya, sudah saya telpon" jawabnya seraya menyembunyikan handphone-nya yang mati, khawatir dustanya ketahuan.

"Oh, biar sini saya bantu, sudah sore begini.  Disini jarang ada yang lewat, nanti keburu malam malah ada apa-apa lagi."

"Nggak apa-apa kok.. nggak usah.. biar sopir saya saja."

"Ya sambil menunggu sopir ibu datang, biar saya bantu ganti bannya."

Akhirnya si wanita ini kehabisan alasan,
"Baiklah.." jawabnya seraya membuka bagasi belakang dan membiarkan pria itu mengambil kunci roda dan dongkrak.

"Ibu tunggu di dalam saja, di luar sini dingin" ujar si pria.

"Oke, nggak apa-apa ya saya tinggal" Jawabnya.  Memang itulah yang dia inginkan, segera dia masuk dan mengunci mobilnya dari dalam.

Dengan cekatan pria itu mulai memasang dongkrak dan mengganti ban mobilnya.  Sedikit kesusahan ketika menaikkan ban yang kempes ke tempatnya dengan badannya yang kurus itu.  Setelah semuanya selesai dan mencuci tangannya dari botol air mineral yang terjepit di sepeda motornya, si pria menghampiri jendela mobil dengan maksud berpamitan.

"Sudah selesai Bu, sekarang ibu masih mau mengunggu atau mau melanjutkan perjalanan? Kalau mau menunggu biar saya temani disini."

Dengan sedikit dongkol atas alasan palsu tentang sopirnya tadi, sang wanita menjawab "Oh, sudah terima kasih.  Aku lanjut saja deh, nanti biar sopirku aku telpon biar nggak usah kesini, tadi dia bilang kena macet di kota.  Jadi berapa saya harus bayar?"

"Oh, nggak usah bu, saya hanya bermaksud menolong.."

Si wanita tertegun, sangkaan buruk yang tadi datang bertubi-tubi di kesan pertama, kini berubah menjadi penyesalan.

"Ayolah, ini ambillah.." sambil menyodorkan selembar uang ratusan ribu.

"Maaf Bu, betul, dari awal niat saya hanya menolong, tidak lebih.  Mari Bu.. saya duluan.." ujarnya sambil berlalu menuju motornya.

Setelah empat-lima kali engkol, motornya mengeluarkan asap dari pembakaran oli mesin sebagai efek akibat bocornya piston motor 4-tak tuanya ini, kemudian berlalu sambil membunyikan klakson sembernya sekali, "Mari Bu.."

"Tunggu....!"  Jerit si wanita tadi.

Sang pria berusaha menghentikan laju sepeda motornya dengan susah payah karena kanvas rem yg sudah kadaluarsa, cengkramannya tidak mampu lagi menahan putaran roda sepeda motornya.

"Ada masalah lagi Bu?" tanyanya ramah.

Si wanita turun dari mobilnya, lalu menghampiri "Nama kamu siapa?"

"Wanto Bu, Siswantoro, kenapa ya Bu?"

Akhirnya si wanita menyadari, tanpa bantuan orang ini, mungkin saat ini dia masih sendirian bersama mobilnya yang kempes dan cuaca mulai gelap, sementara dari tadi tidak ada satu kendaraan pun yang lewat di tempat ini.  Jika tak ada pria ini, entah seperti apa nasibnya nanti.

"Berapa yang kamu minta?"

"Nggak Bu, terima kasih banyak.."

"Ayolah, dik Wanto, berapapun akan saya bayar.. berapapun.. sebutkan saja."

"Maaf Bu, bukan saya menolak rezeki, apalagi bermakasud sombong dan meremehkan ibu.. apa yang saya lakukan bukan untuk mencari pamrih.."  si pria tetap bersikeras, yang baru saja dia kerjakan tidaklah seberapa.  Mengganti ban dan menolong orang yang kesusahan, bukanlah mata pencahariannya.

"Jadi, bagaimana saya bisa membalasmu? Saya nggak biasa dan nggak bisa punya hutang, apalagi sama orang asing.  Kamu tinggal dimana?"

"Tidak perlu Bu.  Begini saja, bila suatu saat nanti ibu melihat orang lain membutuhkan pertolongan, saya ingin Ibu mengingat saya, dan berbuat sama seperti saya.  Itu saja Bu.  Mari Bu, saya permisi dulu.."

"Tapi,.." Sebelum si wanita ini dapat melanjutkan kata-katanya, sang pria sudah itu berlalu, membawa serta asap dan bunyi ribut knalpot motor tuanya.

Si wanita terpana untuk beberapa saat, hingga akhirnya tersadar dan kembali menghidupkan mobilnya dan bergegas melanjutkan perjalanannya.

Sepanjang perjalanan, kata-kata terakhir si Wanto, sang pria penolong, terus terngiang dan menyadarkannya.  Betapa selama ini dia selalu mengukur segala sesuatu dengan uang, betapa dia selalu mengharapkan pamrih dari apa yang dia kerjakan, dan menilai semua orang pun sama seperti dirinya, mengerjakan sesuatu demi imbalan, demi uang, karena itulah bisnis, nothing is free in this world.

Bunyi alarm dari fuel-indikator mobilnya menyadarkan lamunan sang wanita, baru dia sadari kalau isi tanki bbm-nya akan habis tidak lama lagi.

"Oh.. tidak.." ujarnya, kembali risau, galau.

Namun risaunya sirna setelah kurang lebih lima ratus meter di depannya dia menemukan pom bensin.  Seorang wanita bergegas menghampiri saat mobilnya masuk ke area pom bensin.

"Ada Pertamax?"

"Premium bu, nggak ada Pertamax."

"Waduh, yang ada Pertamax dimana ya?"

"Kira-kira 30km dari sini bu, ke arah sana" ambil menjunjuk ke arah barat dengan jarinya yang tertutup sarung tangan putih.

"Waduh, bensin saya nggak nyampe kalau 30 kilo, ya sudah, isi premium saja" ujarnya.

"Berapa liter Bu?"

"10 liter saja, yang penting bisa sampai ke pom bensin depan, nanti aku isi lagi disana, aku cari Pertamax."

"Baik bu, dari nol ya.."

Setelah selesai mengisi dan membayar dengan uang pas, dia kembali melanjutkan perjalanannya, namun perutnya yang kosong memaksanya melihat ke sekitar dan akhirnya menemukan sebuah kedai kecil tak jauh dari pom bensin itu, lalu segera mengarahkan mobilnya dan bergegas turun memasuki kedai itu.

Segera matanya menyapu seluruh isi kedai, "Cukup rapi, tapi nggak ada satupun makanan yang mengundang selera" keluhnya dalam hati.  Niatnya untuk mengisi perut langsung diurungkannya.

"Silakan duduk bu, silakan.." sambut seorang wanita muda, ramah.

"Nggak, saya cuma cari minuman dingin aja, ada Miz***?" tanyanya sambil menyebutkan sebuah merk minuman.

"Ada bu, dingin ya? sebentar saya ambilkan, silakan duduk dulu bu.." jawab si pelayan, tetap konsisten dengan keramahannya meskipun calon pelanggan ini ternyata sama sekali tidak berniat untuk membantu meningkatkan omzet jualan makanannya hari itu.

Wanita itu memperhatikan si pelayan yang baru saja berlalu, umurnya mungkin sekitar 26-27 tahun, berambut lurus sebahu yang diikatnya dengan sebuah karet gelang.  Wajahnya biasa saja, namun keramahan pelayanannya yang memberi nilai lebih pada penampilannya.  Keramahan tanpa dibuat-buat, tidak berlebihan seperti keramahan seorang pramusaji di fast-food ayam goreng yang selalu menawarkan CD album terbaru pada setiap pelanggan.

Namun yang paling menarik perhatian adalah perutnya yang besar.  Ya, dia sedang hamil tua, mungkin sekitar delapan atau bahkan sembilan bulan.  Walaupun garis mukanya tak bisa menutupi kelelahannya sebagai wanita yang sedang hamil tua, namun hal itu sama sekali tidak menghalangi aura keramahannya, benar-benar luar biasa.  Sebagai seorang wanita yang juga pernah mengalami masa-masa kehamilan seperti itu, dia tahu persis bagaimana rasanya.

"Silakan bu, ini.."
Sang pelayan menyodorkan sebotol minuman dingin beserta sebuah handuk basah yang hangat.

"Ibu terlihat lelah, habis dari perjalanan jauh ya Bu.  Ini saya bawakan handuk hangat."

"Oh, terima kasih, lelaki atau perempuan? berapa bulan?" jawabnya seraya mengambil handuk, mengusap mukanya sambil mengarahkan pandangannya pada perut si pelayan.

"Sepertinya lelaki bu, menurut hasil pemeriksaan terakhir, ini udah masuk sembilan."

"Nggak istirahat saja? kan capek.."

"Ndak kok bu, sayang kalo sampai tutup, alhamdulillah anaknya juga nggak rewel.." jawab si pelayan sambil memegang perutnya sendiri.

Melihat kondisi kedai yang sepi serta jumlah menu yang disajikan, tanpa dijelaskan pun si wanita sudah memahami dan tidak melanjutkan topik pembicaraannya.


"Jadi berapa?"

"Delapan ribu saja Bu."

"Ini mbak, maaf nggak ada uang kecil." katanya sambil menyodorkan uang seratus ribuan.

"Waduh, kalo begitu tunggu sebentar, saya ke pom sebelah tukar uang dulu ya Bu"

"Ya, nggak apa-apa mbak.  Hati-hati jalannya."

Dengan kondisi hamil tua seperti itu, cukup lama bagi si pelayan untuk mencapai pom bensin yang hanya berjarak dua puluh meter dari kedainya.  Si petugas pom yang tentu sudah mengenalnya dengan baik tanpa basa basi langsung membarter selembar uang itu dengan beberapa pecahan sepuluh dan dua ribuan.  Tanpa dipotong komisi.

Kurang dari sepuluh menit kemudian si pelayan kembali ke kedainya dan mendapatkan wanita tadi sudah tidak lagi di tempatnya.  Namun bukan itu yang membuat kakinya lemas hampir tak berdaya.  Didapatinya sebuah amplop putih yang diselipkan di bawah piring handuk, bertuliskan beberapa baris kalimat yang ditujukan untuknya;

"Aku tahu kamu pasti sedang membutuhkannya.  
Jangan kau anggap ini sebagai beban, apalagi hutang.
Aku pernah ditolong oleh seorang asing, 
dan dia yang mendorongku untuk berbuat seperti ini kepadamu.
Jika kamu memang ingin membayarnya, 
lakukanlah hal yang sama kepada orang lain"

Perlahan dia buka amplop tak bersegel itu, dan didapatinya sepuluh lembar uang ratusan ribu.  Dia nyaris jatuh terduduk jika tak segera memegang kursi dan menenangkan diri.  Duduk termenung dengan airmata berlinang, dari bibirnya dengan lirih meluncur sederet pujian kepada Tuhannya.

Malam itu dia tutup seperti biasa, sekitar jam delapan malam, dan langsung berjalan bergegas menuju rumahnya yang berjarak setengah kilometer dari kedainya.  Sudah hampir jam sembilan malam ketika dia sampai di rumahnya, dan mendapati suaminya tertidur di bale-bale teras, tanpa bantal.

"Mas, bangun mas, ayo pindah ke dalam.."
"Oh, sudah pulang kamu dik, maaf aku ketiduran.. pulang sama siapa?"
"Nggak apa-apa mas, sampeyan kan capek.  Tadi non Erni kebetulan lewat depan kedai." ujarnya. 
"Oh.. syukurlah, aku kira kamu jalan kaki gara-gara aku ndak jemput."
"Nggak apa-apa kok mas" dia menjawab, tanpa harus menceritakan hal sebenarnya.  Sedapat mungkin dia menjaga perasaan suaminya, tanpa harus menyertakan dusta didalamnya.

Suaminya  mendahului masuk dan langsung melanjutkan episode tidurnya yang sempat terpotong, mungkin dengan harapan agar mimpi indahnya pun bisa bersambung tanpa jeda iklan.

Setelah mengunci pintu, mematikan lampu, dan mendapati suaminya sudah kembali terlelap, dia tahu bahwa suaminya sangatlah lelah, semenjak pabrik tempatnya bekerja bangkrut dan dia tidak mendapatkan pesangon, sang suami pontang-panting bekerja serabutan demi untuk biaya persalinannya yang semakin dekat.

Sambil merebahkan diri di samping suaminya, dia mencium keningnya dengan lembut, dan berbisik lirih, sangat lirih..

"Tidurlah sayang, semuanya akan baik-baik saja.  Aku sayang kamu, Mas Siswantoro..."

**end**

Bandar lampung, 18.06.2012
inspired by "What Goes Around, Comes Around", author unknown.

3.4.07

no shift. no caps-lock.

haarrr.. naha kudu sdn6///
--teu make tanda tanya da shift-na ruksak--

kuring mimiti ngarasaan bangku sakola di sdn6 banjar, di bobojong. harita mah kaitung jauh ti imah, da lamun dilampahan mah kira-kira tiluparapat jam leumpangna budak esde. montong lumpat, teu kaci. padahal mah aya esde hiji nu leuwih deukeut, ngan harita pun bapa rada 'diintimidasi' ku guru esde genep tatangga kuring, diwanti-wanti yen kuring kudu sakola esde di dinya, meh kaajar kumanehanana.

kurang leuwih kieu meureun intimidasina;
'pokona lamun teu disakolakeun di sdn6, kuring teu tanggung jawab ka masa depan ieu budak, soalna lamun teu diarahkeun ku sim kuring, ieu budak bakalan jadi musibah pikeun nagara.'
meureun.
tapi da geuning geus kabuktian, ku jalaran si-anu-whose-name-shall-not-be-spoken teu sakola di esde genep, nagara teh jadi loba musibah kieu geuning.. ah.. teu ilu-ilu uing mah..

ti kelas hiji tepi ka kelas tilu, kuring nikeuh leumpang ka sakolaan. karasa ripuhna teh lamun aya buku anu tinggaleun, atuh siga nu diberik ku anjing kajajaden lumpat bulak-balik bakating ku sieun kabeurangan.

nincak kelas opat, alhamdulillah kuring pindah ka jalan cimaragas. halah siah beuki jauh lalampahan ka sakola teh. sanajan beuki jauh, teu nambahan duit bekel teh, kuring ge ma'lum ngarana oge kolot single-parent, tara ieuh menta leuwih, ngan lamun dibere mah teu sudi lamun kudu nolak.

harita kungsi menta pindah sakola, ngan teuing kunaon da teu dibikeun ku sakola, pajarkeun teh cenah keun bae rek kabeurangan unggal poe oge, asal ulah pindah ti sakola ieu.
haarrr....
jigana mah meureun pedah kuring kasep. meureun.
tapi a enya, sainget kuring mah kuring nu pangkasepna...

///geus ah, bijil deui panyakit gumasepna.. bisi beuki parna..///

intinamah, kuring make ngaran sdn6 kujalaran ngarasa reueus.. ;
- ku guruna --pa kartiman is the best
- ku lingkunganana --sanajan di lingkungan desa tertinggal, tapi asri jeung loba jurigna
- ku jauhna..
- ku babaturan nu rata-rata karuleuheu.. urang jadi pangkasepna saharitaeun mah..

...meunggeus!!

pidu'a budak

Budak : "Ya Alloh, mugia pun biang, bapa, sareng nini dipaparin kasalametan. Mugia pun aki ditampi di sisi Anjeun?"
Bapa : "Naha bet ngomong kitu budak téh? Pan Akina hirup kénéh?"
Isukna si Aki maot. Bapana ngahuleng.

Saminggu ti harita:
Budak : "Ya Alloh, mugia pun biang sareng bapa dipaparin kasalametan. Mugia pun nini ditampi di sisi Anjeun?"
Isukna si Nini maot.
Bapana hémeng, "ieu budak bisa komunikasi jeung alam gaib" pikirna.

Sabulan ti harita:
Budak : "Ya Alloh, mugia pun biang dipaparin kasalametan. Mugia pun bapa ditampi di sisi Anjeun?"
Atuh kontan bapana langsung teu bisa saré.
Isukna digawé bari pikiran teu pararuguh.
Datang soré, teu balik, hayoh mikiran omongan budak, ngajejentul di kantor tepi ka peuting.
Liwat tengah peuting, ngoréjat, "aéh, geuning aing hirup kénéh" Tuluy buru-buru balik.

Tepi ka imah, ramé jelema, pamajikanana hariweusweus,
"Ari si bapa tas ti mana, teu biasana lembur dugi ka wayah kieu?"
"Aya naon kitu ieu teh?"
"Itu si mang Duyéh, tadi keur bébérés di kebon, ngadadak maot!"

Atuh si bapa ngahuleng deui.

29.3.07

ceudeum. heuay. jurig!

Isuk-isuk keneh geus ceudeum. Halah siah, bakalan kahujanan deui, bakal telat deui asup gawe. Si Aa, anak urang nu cikal keur mandi -bari baeud-. Biasa si eta mah unggal isuk aya we alesan keur ngambek teh. Ketang, euweuh alesan oge ngambek mah tetep. Yu.

Nu matak heran, manehna embungeun mandi di tukang, keukeuh wae kahayangna teh mandi di kamar urang. Teuing atuh. Padahal euweuh bak, ngan ember wae wungkul. Malah lamun dicarek ku urang, manehna leuwih milih mandi di tempat nyeuseuhan daripada di kamar mandi. Aya jurigan kituw?

Tapi da salila dua taun di ieu imah, can kawenehan manggihan nu kararitu. Eta ge lamun mindeng aya babaturan kuring nu ngendong --sabenerna mah teu ngendong, da teu sare ieuh, begadang parat nepi ka subuh--, aya nu sok kawenehan ngadenge nu seuri, atawa nu kaulinan cai, pajarkeun teh di kamar mandi tukang. Ari disampeurkeun mah euweuh. Maklum cenah, da tukangeun jeung sagigireun teh leuweung eh kebon tangkil. Tangkil teaaa attuhh... pikiraneun. Lain ketang, tuangeun.

Ngan pernah we ngadenge budak leutik keur arulin meni rame, tengah peuting ereng-erengan (haarrr??), harita keur nungguan si bungsu nu karek umur tilu poe. Tapi da teu curiga nanaon, rarasaan teh nya biasa we aya budak nu keur ulin mah. Tapi kaisuknakeun kakara sadar, naha bet ulin make jeung kudu tengah peuting? tapi keun wae da kahayangna meureun, daripada ku urang dicaram, ngke indung-bapana (jurig) lapor ka KPAJ (komisi perlindungan anak jin).
Barina oge teu nembongan ka urang ieuh.

Terus hiji mangsa pas si Aa ngendong di tempat ninina, harita adi misan kuring datang, rek ngendong cenah. Pas urang mukakeun panto hareup, rarasaan teh urang nempo si Aa rek asup ka imah, ari si Roni, adi kuring, keur nyorong motor rek diasupkeun. Kuring mah ngaleos we lalajo deui. Beres lalajo urang ka kamar si Aa, ngan nempo si Roni keur sare, ku urang dihudangkeun, maksud teh rek nanyakeun si Aa. "Aa nggak pulang, nginep tempat mamah" cenah. Harr? ari tadi saha nya? Urang hampir yakin nempo si Aa. Urang ngan ukur bisa istigfar, tapi tuluy seuri. Lalajo deui we, teu jadi sare.. siun ngimpi nu araraneh.. heuheu..

Aeh heueuh, si Aa geus rapih geuning, geus make baju seragam. Urang gura-giru salin baju, si bungsu digolerkeun deui we, da can bisa ngorondang. Padahal geus dalapan bulan, kagendutan meureun. Maksud teh tas nganteurkeun si Aa sakola rek tuluy ka kantor lah, bisi kaburu hujan. Tapi alhamdulillah, tepi ka wayah kieu, sabelas kurang saparapat, angger we ceudeum, hujan mah teu sakeclak2 acan.

Geus ah, geus aya gawe deui... (bari heuay...)