Jaket, Garis Polisi, dan Resepsi
Layar laptop Ozan (25) menampilkan deretan spreadsheet yang seolah menertawakan sisa saldo rekeningnya. Di sampingnya, Lia (24), tunangannya, sedang sibuk melipat jaket hoodie sambil sesekali memijat pelipisnya. Pukul lima sore di sebuah agensi digital kecil di daerah Pahoman, waktunya Ozan melepas persona sebagai Junior Graphic Designerbergaji pas-pasan, beralih menjadi kurir merangkap admin untuk "Tiba-Tiba Vintage", usaha thrifting online yang mereka rintis berdua.
"Zan, tadi ibuku WA lagi," ucap Lia, memecah keheningan. Nada suaranya lelah. "Nanyain kepastian tanggal bayar DP gedung Bagas Raya. Katanya kalau lewat bulan ini, slot buat tahun depan bakal penuh."
Ozan menghela napas panjang. Tuntutan resepsi besar-besaran dari calon ibu mertuanya adalah beban batin yang mengalahkan deadline kantor. Hidup di Bandar Lampung dengan gaji UMK menuntut mereka untuk punya side-hustle. Mimpi mereka sederhana: melunasi DP gedung dan katering tanpa harus berutang ke pinjaman online. Semua harapan itu kini bertumpu pada karung-karung pakaian bekas yang mereka ambil dari Pasar Bambu Kuning.
—
Malam itu, Ozan menelepon Bang Jali, bos pakaian bekas langganannya di Pasar Bawah Ramayana. Tiga hari lagi, Ozan dan Lia akan membuka booth di Lampung Indie Market, sebuah event kreatif tahunan bergengsi di pelataran Mal Boemi Kedaton (MBK). Ini adalah pertaruhan terbesar mereka.
"Bang Jali, DP sepuluh juta udah masuk ya sore tadi," kata Ozan, sebelah tangannya mengusap punggung Lia yang sedang mereka-reka desain poster booth.
"Aman, Yay! Tiga karung windbreaker Jepang-Korea udah di gudang. Licin-licin barangnya, siap tempur ini mah! Lusa lu angkut aja ke sini," suara serak Bang Jali terdengar diiringi bising klakson angkot jurusan Rajabasa.
"Mantap, Bang. Jangan dikasih ke orang lain lho. Kalau cuan di MBK, aman urusan katering kawinan gue," ucap Ozan sambil tersenyum menatap Lia. Harapan itu terasa begitu dekat.
—
Namun, realitas birokrasi punya selera humor yang sangat buruk.
Dua hari sebelum acara, linimasa TikTok dan Instagram Rilis Lampung mendadak ramai. Tagar #ThriftingDilarang merajai tren lokal. Jantung Ozan berdegup kencang membaca sebuah berita utama: "Kementerian Perdagangan Turun Tangan, Bea Cukai Panjang dan Satpol PP Gerebek Gudang Baju Bekas Impor di Bandar Lampung." Alasan klasik: melindungi UMKM lokal. Regulasi pusat yang dieksekusi membabi buta tanpa aba-aba.
Panik, Ozan menyalakan motor Honda Beat bututnya, membonceng Lia menerobos kemacetan Jalan Teuku Umar menuju Pasar Bawah. Setibanya di sana, suasana sangat mencekam. Pedagang bergerombol dengan wajah muram.
Langkah Ozan dan Lia terhenti di depan lorong blok C. Napas mereka tercekat. Pintu harmonika gudang Bang Jali tertutup rapat, disilang dengan garis polisi kuning yang menyala.
"Mang, Bang Jali mana?" tanya Ozan gemetar kepada pedagang kopi keliling.
"Wah, telat kamu, Zan. Semalam digaruk semua sama petugas. Tiga truk barangnya diangkut. Bang Jali mah lagi diperiksa di Polresta," jawab si amang sambil geleng-geleng.
Dunia Ozan runtuh. Sepuluh juta rupiah—uang tabungan mati-matian hasil mereka berhemat setahun—lenyap. Terlebih, mereka tidak punya stok barang untuk Indie Market.
—
Hari pertama acara di MBK tiba. Di saat booth lain memamerkan rak-rak penuh pakaian estetis, lapak Ozan dan Lia tampak mengenaskan. Hanya ada sepuluh potong jaket sisa stok bulan lalu.
Puncaknya terjadi pada pukul dua siang. Dimas, panitia event, mendatangi booth dengan membawa clipboard.
"Zan, sori nih. Sisa pelunasan booth yang tiga juta belum masuk ya?" tegur Dimas tanpa basa-basi.
Tepat saat itu, ponsel Lia berbunyi. Panggilan dari ibunya. Wajah Lia makin pucat. Ozan, yang matanya memerah kurang tidur dan diimpit beban luar biasa, meledak.
"Mas, lu lihat booth gue? Barang gue disita negara semalam! Pemasok gue digerebek gara-gara aturan menteri yang turun tiba-tiba. Ini force majeure, Yay! Kasih gue keringanan, atau balikin aja DP sewa gue!" suara Ozan menggelegar, menarik perhatian pengunjung.
Dimas membalas dingin, "Nggak bisa gitu dong. Kontrak kan udah jelas. Aturan pemerintah ya bukan urusan panitia. Kalau hari ini nggak lunas, booth ini gue tutup."
"Bukan urusan kalian?!" Ozan membanting gantungan baju. "Terus urusan siapa?! Gue bayar sewa mahal, negara tiba-tiba matiin rezeki gue, dan lu cuma peduli sama kontrak?! Dimana nurani lu?!"
Lia buru-buru menarik lengan Ozan, menahan air matanya sendiri. "Zan, udah, malu dilihatin orang. Udah geh..."
—
Ozan terhempas ke kursi lipat. Perdebatan itu buntu. Dimas pergi dengan ancaman penyegelan. Ponsel Lia di atas meja masih menampilkan notifikasi missed call dari "Ibu".
Menatap wajah Lia yang menunduk lesu, amarah Ozan menguap, digantikan rasa gagal yang luar biasa. Berteriak pada panitia tidak akan mengembalikan uang katering, memaki pemerintah di Twitter tidak akan membuat calon mertuanya berhenti menuntut resepsi impian. Di mata birokrasi, nasib dua anak muda yang sedang berjuang menikah ini sama sekali tidak relevan.
—
Namun, patah arang bukanlah kemewahan yang bisa dimiliki kelas pekerja. Lia menatap Ozan, menghapus air matanya, lalu berkata, "Zan, kita nggak bisa pulang tangan kosong."
Melihat sebuah booth custom sablon di seberang yang sedang sepi, insting bertahan hidup Ozan menyala. Ia mengambil iPad-nya dan merangkul Lia. Mereka menghampiri booth tersebut dan menyewa mesin press sablon portable mereka per jam dengan sisa uang di dompet.
Mereka kembali ke booth dan mengubah konsep seratus delapan puluh derajat. Ozan menumpahkan seluruh keputusasaannya ke dalam desain-desain satir bernuansa streetwear. Dalam sekejap, desain itu dicetak di atas kemeja polos murah milik mereka sendiri.
Tulisannya besar, tebal, dan menohok: "BARANG ILEGAL (Kata Negara, Bukan Kata Gue)" Dan desain satu lagi buatan Lia: "Cari Cuan Buat Kawin Malah Dikriminalisasi"
Mereka membalik meja, membongkar rak, dan mengganti papan nama booth menggunakan spidol dan kardus bekas: "UPCYCLING SATIR. BAWA BAJU LAMA LU, KITA SABLON JADI BENTUK PROTES."
—
Seorang mahasiswa Universitas Lampung (Unila) yang sedang lewat berhenti membaca kardus itu. Ia tertawa keras. "Bang, asli ini relate banget! Sablonin jaket gue tulisan yang 'Cari Cuan Buat Kawin' itu dong! Kena berapa?"
"Lima puluh ribu aja, Yay," jawab Ozan, menyalakan mesin press, sementara Lia mulai merekam prosesnya untuk TikTok.
Sore itu, booth mereka diserbu. Konsepnya menohok jantung para Gen-Z dan Milenial Bandar Lampung yang lelah dengan inkonsistensi kebijakan, sekaligus relate dengan mahalnya biaya menikah. Video Lia viral di TikTok lokal.
Uang sepuluh juta mereka tidak kembali hari itu juga. Sisa sewa booth akhirnya lunas terbayar malam itu, menyisakan recehan yang masih sangat jauh dari angka DP gedung Bagas Raya. Ibunya Lia pasti masih akan menelepon esok hari.
Namun, saat mereka berboncengan pulang membelah angin malam Kota Bandar Lampung, Ozan menggenggam tangan Lia yang melingkar di pinggangnya lebih erat. Mereka belajar satu hal: hidup di negara ini ibarat menaiki rollercoastertanpa sabuk pengaman. Aturan bisa mencekik rezeki dalam semalam. Tapi selama mereka punya daya lenting untuk merespons kerasnya hidup dengan kreativitas, tidak ada garis polisi manapun yang bisa benar-benar membunuh masa depan mereka.